Powered by Blogger.

Treni Power Tarikan Motor Lebih Halus, BUKTIKAN!!! (Lanjutan)

Melanjutkan testimoni  4 Hari Pertama yang telah saya tuangkan sebelumnya, maka saya akan melanjutkan testimoni sampai dengan hari sekarang, ya sekarang tanggal 18 Pebruari 2015.

Tidak afdol rasanya tidak menampilkan sepeda motor yang dijadikan bahan ujicoba, dari pada ntar bilang no pict hoax hehhee
Bahan Ujicoba Vega R

Hari Kelima, 14-02-2015

Posisi Pagi Hari, spedometer menunjukan 896
Posisi Pagi Hari, spedometer menunjukan 902
Pada hari kelima ini spedometer menunjukkan angka 896 pada pagi hari, disiang hari menunjukkan angka 902. Seperti hari - hari sebelumnya tarikan gas menjadi lebih ringan.

Hari Keenam, 15-02-2015
Posisi Pagi Hari, spedometer menunjukan 918


Dari hari kelima s.d keenam jarak tempuh sejauh 22 Km, belum ada kendala yang berarti selama pemakaian.








Hari Ketujuh, 16-02-2015
Posis Menjunjukkan 930
Hari keenam ke hari ketujuh jarak tempuh sejauh 12 Km. Pada hari ini saya ada tugas keluar kota jadi ya ndak ada bisa menuliskan lebih jauh tentang performa sepeda motor.

Hari Ke8 dan Ke9, 17 & 18-02-2015
Digabung aja deh ya karena gambar yang ada tanggal 18 hehhe
Posisi menunjukkan 954

Overall selama 9 hari pemakaian saya sangat puas dengan produk Treni Power dari PT. Veritra Sentosa Internasiona (tren-i dulu VSI), dikarenakan hal tersebut pada hari ini saya mengisi lagi bbm sebanyak 3,03 liter dan langsung saya teteskan sebanyak 15 tetes.

Ada kawan saya yang bilang pantesan aja kereta mu (sepeda motor dalam bahasa Medan) ngacir, kaw tetesin 5 per liter sih, aku aja 5 tetes tuk full tangki aja sangat ngefek apalagi kaw yang 5 tetes per 1 liter. hehehhe

Sekian deh Testimoni dari saya, 9 hari rasanya cukup untuk mereview suatu produk hehehe. Akan saya update lagi testimoni ini apabila ada peristiwa yang sangat signifikan.

Gmana Mau membeli nich Produk?
Silahkan PM Saya di FB :)

Budi Sahputra Ketaren
Agency PayTren
VA.01.0001.000107
VP2508212
Kisaran - 18022015- 7:01PM (waktu Laptop)


Treni Power Tarikan Motor Lebih Halus, BUKTIKAN!!!

Testimoni Tentang Treni Power dari PT. Veritra Sentosa Internasional (Tren-i)


Akhirnya sempat juga menuliskan testimoni tentang Treni Power, huh ... Berawal dari ikut OPT-8 pada salah satu hotel di Kota Medan, saya tertarik dengan Produk yang dipasarkan oleh Tren-i ini. Penghemat BBM. Kalau saya analisis sih bukan penghemat BBM tapi menghaluskan tarikan Motor sehingga kita tidak perlu narik gas poll tapi kendaraan bisa laju :D. (Just My Opinion) 

Untuk melihat demo dari nich produk silahkan


Akhirnya setelah kembali ke Kota Kisaran, saya pun mencoba nich produk. Adapun sebagai bahan ujicoba adalah sepeda motor merk Y**ma*a VE*a DB Tahun pembuatan 2005 (Terawat).
Inilah hasil ujicobanya :

Hari Pertama 10-02-2015
Kondisi Mesin tidak dihidupkan dari hari Kamis Siang tanggal 05-02-2015, estimasi sisa bahan bakar 1 liter, maka sayapun meneteskan sebanyak 5 tetes. Setelah itu motor saya starter dan alhamdulillah langsung Nyala :D, dipanasin kurang lebih 1-3 menit. yang dirasakan pada saat bawa nich motor dengan treni power adalah ringan sangat ngegas. Pada siang harinya saya mengisi BBM 2 liter lebih dikit  sehingga saya tambahkan lagi deh 10 tetes dari treni power.

Hari Kedua, 11-02-2015
Posisi Kilometer 3 digit terakhir adalah ***857, Hari kedua ini agak-agak nyendat dikit terasa, akan tetapi setelah dimain-mainkan gas, maka langsung melaju dengan lincahnya. (mungkin efek tidak dipanaskan)

Hari Ketiga, 12-02-2015
Posisi Kilometer 3 digit terakhir adalah ***867, hari ketiga motor sudah sangat nyaman dipakai, ringan pol hehehe

Hari Keempat, 13-02-2015
Yups, hari ini, hari dimana saya menulis di Blog ini, posisi spedometer : ***885. (kok melonjaknya meterannya , hehhe ... malam jumatnya saya bawa keluarga jalan-jalan keliling kota :D )
Percaya atau tidak, laju sepeda motor saya lebih makyus, tarikan lebih halus

Kesimpulan sampai dengan hari keempat ini, dengan harga Rp. 50.000 per Botol , sangat worth it lah nich produk. Estimasi perbotol bisa untuk 30 liter, ndak usah hitung-hitungan Mahal atau Murah deh, menurut saya manfaat yang saya rasakan selama 4 hari ini terbayarkan dengan harga Rp. 50.000/botol.
Kalau hitungan saya sih MURAH.

Gmana Mau membeli nich Produk?
Silahkan PM Saya di FB :)

Budi Sahputra Ketaren
Agency PayTren
VA.01.0001.000107
VP2508212
Kisaran - 13022015- 6:21PM (waktu Laptop)

Mau Besarkan Payudara Secara Natural?

Banner 300x250
 Hi kawan - kawan , Jiakalau Anda ingin mengetahui rahasia untuk membesarkan payudara Anda dalam waktu 6 minggu ke depan secara natural maka Anda perlu melihat link di bawah ini.. --> Klik disini Ini adalah solusi natural di bandingkan Anda harus menjalani operasi yang menyakitkan atau menelan pil-pil mahal yang belum tentu ada efeknya kepada Anda. Ini adalah rahasia yang di sembunyikan oleh para dokter bedah plastik selama bertahun-tahun. Metode ini teruji lebih dari 1200 orang dan berhasil membantu mereka mendapatkan bentuk tubuh yang mereka inginkan. Ingin mendapatkan hal yang sama terhadap diri Anda? Klik link di bawah ini.. --> Karena Tubuh Anda Milik Anda Sepunuhnya

Salam

Septi Peni Wulandani "The Great Mother'


SIAPA YANG TIDAK INGIN MENJADI IBU SEPERTI BELIAU ?

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.

Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
  1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
  2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
  3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
  4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
  5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
  6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
  7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya. 
  8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
  9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
  10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
  11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan diibuprofesional.com.
Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.

ESENSI JUALAN OLEH COACH DEWA PRAYOGA

Banyak orang yang baru pertama kali menjadi pengusaha dan meniti karir sebagai penjual, mereka putus asa dan menyerah ketika ditolak mentah-mentah oleh para calon pembelinya. Padahal kalau dipikir-pikir, menjual adalah aktivitas yang sangat mulia.

“Jualan adalah aktivitas menolong orang yang DIBAYAR…”

Agar kita tidak termasuk orang yang putus asa dan menyerah saat menjual, alangkah baiknya mengetahui terlebih dahulu mengenai esensi jualan itu sendiri.

Apa sebenarnya esensi jualan itu?

Esensi jualan yang pertama adalah MENOLONG ORANG

Tanpa disadari, jualan adalah proses pertukaran antara uang dan manfaat. Setiap uang yang dikeluarkan oleh pembeli akan ditukar dengan manfaat yang dikemas dalam bentuk produk baik berupa barang ataupun jasa. Setiap manfaat pasti memiliki kemampuan untuk memenuhi keinginan, kebutuhan, bahkan menyelesaikan sebuah permasalahan. Bayangkan… Jika seandainya banyak orang di luar sana yang tertolong karena hadirnya produk kita, kita tentu senang bukan?

Jika niat kita adalah MENOLONG ORANG, kalaupun ditolak, kenapa harus gundah gulana? Masuk akal?

Mulai saat ini, ketika jualan, munculkanlah rasa ingin menolong orang. Niatkanlah di dalam hati bahwa penawaran yang diberikan adalah sebuah penawaran “pertolongan” atas keinginan, kebutuhan, atau permasalahan yang sedang ia hadapi. Harapannya, dengan hadirnya produk kita, semua hal tersebut dapat terselesaikan. Dengan begini, ketika ia membeli, kita bersyukur, dan ketika ia menolak, kita tak perlu kecewa, karena sedari awal niatan kita adalah menolong.

Esensi jualan yang kedua adalah MENEBARKAN MANFAAT

Bisa Anda bayangkan, saat jualan, minimal kita sedang membantu mendistribusikan produk dan manfaat ke banyak orang. Lebih dari itu, ketika jualan, kita sedang mendorong berputarnya uang. Kecepatan dan volume perputaran uang di sebuah masyarakat menentukan kesejahteraan masyarakat tersebut. Indonesia adalah salah satu contohnya. Ketika Eropa dan Amerika sedang dilanda krisis besar-besaran, Indonesia malahan menembus pendapatan perkapita hingga 3000$ per tahun. Mengapa? Karena penduduk kita suka jualan. Mulai dari pedagang kaki lima, ibu-ibu arisan, mahasiswa, hingga orang-orang di perkantoran. Proses jual beli ini yang meratakan distribusi uang. Jika distribusi uang sudah merata, Indonesia akan sejahtera.

Kalau sudah begitu, hal apa saja yang membuat kita pasrah dan menyerah saat menghadapi penolakan dan kegagalan saat menjual? Toh esensinya menolong orang dan menebarkan manfaat kan?
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS